Simak !
PROMO ANDALAN kami


PELUANG USAHA
BENGKEL MOTOR

dengan mengikuti

KURSUS MEKANIK
SEPEDA MOTOR


AUTO CHAMPION TRAINING CENTRE



"Selama masih ada sepeda motor, kita masih bisa berharap bisnis ini gak ada matinya deh ..."

Ikuti !
Program Keahlian Mekanik Motor Standar
dan
Pengenalan Modifikasi (Tune Up Performance)



DAPATKAN SEGERA !!

DISKON Rp 104.000,-


(selama masih dalam masa promosi)

klik di sini --> :

ARTIKEL TERANYAR

Rabu, 15 Mei 2013

Harga Sepeda Motor Bekas, Cara Menawar dan Cara Transaksinya

Berbagai upaya harus kita lakukan berkaitan dengan membeli sepeda motor bekas. Tujuannya adalah agar kita "tidak menyesal di kemudian hari" dan puas tanpa menyalahkan orang atau pihak lain. Diantaranya adalah seperti pemeriksaan fisik sepeda motor, pemeriksaan surat-surat kendaraan, cara menawar dan pembayaran (transaksi jual-beli sepeda motor), hal-hal apa yang terkait dengan membeli sepeda motor luar kota, serta cara berurusan dengan calo atau perantara.

Berikut ini akan dibahas bagaimana melakukan tawar-menawar dalam jual-beli sepeda motor. Adapun pemeriksaan fisik sepeda motor dan surat-surat kendaraan yang harus dilakukan sebelum tawar-menawar akan dibahas di lain kesempatan.

Jadi, apa langkah kita selanjutnya jika pemeriksaan fisik sepeda motor berikut surat-suratnya telah kita lakukan, dan ternyata semuanya tidak bermasalah, serta kita telah merasa cocok dengan sepeda motor tersebut?
Langsung membayarnya sebesar harga yang ditawarkan oleh penjual?


Seperti dijelaskan di muka, sebagai pembeli kita mempunyai hak dan kewajiban tertentu. Karena hak pertama, yakni meneliti barang yang akan kita beli sudah kita penuhi, tentunya kita akan memenuhi hak kedua, yakni menawar harganya sebelum membayarnya.

Sebelum melakukan penawaran, bahkan jauh sebelum kita memiliki keinginan untuk membeli sepeda motor bekas, sebaiknya kita mengetahui dulu harga sepeda motor bekas tersebut di pasaran atau harga normal di sekitar lingkungan kita. Hal ini sangat penting mengingat fluktuasi harga kendaraan yang tidak menentu akibat krisis moneter yang mengakibatkan krisis multidimensi di negara kita beberapa tahun terakhir.
Juga karena tidak stabilnya nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar Amerika (US dollar). Di samping itu, dengan mengetahui harga pasaran, kita tidak akan "tertipu" membeli sepeda motor bekas dengan harga yang relatif mahal.

Sebaiknya jauh-jauh hari sebelum memutuskan untuk membeli sepeda motor bekas, kita sudah pasang mata dan telinga, kasak-kusuk mencari tahu harga pasarannya. Cara termudah melihat harga pasaran ini adalah sering membaca iklan di surat kabar atau koran daerah tempat tinggal kita. Cara lain adalah sering bertanya kepada orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang sepeda motor bekas, jalan-jalan ke show room sepeda motor bekas, juga bisa kita lakukan.

Untuk penjajagan, sebaiknya sekadar bertanya lebih dahulu. Perlu kita ketahul, harga di show room biasanya jauh lebih tinggi (bisa Rp 1.000.000,- hingga Rp 2.000.000,-!) dibandingkan dengan harga di pasaran umum. Mengapa? Tidak jauh beda dengan harga pakaian di pinggir jalan dengan harga pakaian di mall. Tentu jauh lebih tinggi di mall. Begitu pula harga sepeda motor di show room. Harga sepeda motor di show room jauh lebih tinggi, karena pemilik atau pedagang harus membayar pajak dan gaji karyawan atau pegawai.


Etika Menawar Harga


Ketika proses tawar menawar berlangsung, antara kita sebagai pembeli dan penjual, masing-masing memiliki hak. Karena sudah disebut second hand (barang bekas), meskipun ada harga pasarannya, sepeda motor bekas tidak dibanderol. Di sini, si penjual memiliki hak untuk menawarkan setinggi-tingginya dan kita sebagai calon pembeli berhak menawar dengan harga serendah-rendahnya. Penjual yang baik biasanya menawarkan harga ini tidak terlalu tinggi dari harga pasaran. Dengan catatan, calon pembelinya kelihatan mengetahui harga pasaran, tidak bloon, dan tidak terlihat kampungan.
Namun, jika calon pembelinya tampak bodoh dan kelihatan sama sekali tidak mengetahui harga pasaran, penjual sering seenaknya –meskipun sebenarnya penilaian ini sangat subjektif. Mereka menawarkan dengan harga setinggi-tingginya, toh calon pembelinya orang awam. Apalagi, jika dari mimik dan raut mukanya, calon pembeli tampak sangat membutuhkan barang yang dimaksud.

Contoh kasus unik penulis jadikan ilustrasi di sini. Kasus ini dialami seorang kawan dekat penulis, seorang pedagang sepeda motor yang kebetulan memiliki show room kecil-kecilan. Suatu saat show room-nya kedatangan 2 orang tamu (yang diketahui belakangan ternyata seorang ayah beserta anaknya) yang ingin membeli sepeda motor. Kedua orang tamu tersebut tampaknya "orang pinggiran" yang "buta" terhadap harga sepeda motor bekas. Mestinya kedua orang tersebut menanyakan harga sepeda motor yang diinginkannya. Namun, ketika mereka melihat salah satu sepeda motor yang dipajang, si ayah sambil berkacak pingang langsung bertanya begini,"Motor ini dapat nggak tujuh juta setengah?" Kawan penulis terperangah, dan setelah berpikir sejenak ia menjawab, "Wah, nggak boleh Pak, itu delapan juta setengah" Anehnya, kedua orang tamu tersebut (tampaknya memang senang dengan sepeda motor itu), langsung menawar Rp8.000.000,-. Akhirnya terjadi transaksi dengan harga Rp 8.000.000,- Padahal, jika kedua tamunya tadi menanyakan harga sepeda motor itu, kawan penulis akan menawarkan Rp6.500.000,- dan akan diberikannya jika ada yang menawar Rp5.750.000,- Mengapa? Karena la membeli sepeda motor tersebut 4 jam sebelumnya hanya seharga Rp5.400.000,-.

Hari itu, kawan penulis mendapat untung besar karena kebodohan pembelinya. Bayangkan, hanya dalam 4 jam dia mendapatkan keuntungan besar, Rp2.600.000,- Hampir 50% dari harga pokok ! Fantastic! Beberapa hari kemudian, kawan itu bercerita kepada penulis. Kawan penulis lalu bercanda dan berandai-andai, "Jika sebulan saja dapat pembeli kayak gini 3 kali saja, bisa jadi konglomerat Mas". Salahkah kawan penulis ?

Satu ilustrasi lagi. Ini kisah nyata penulis sendiri. Suatu hari penulis di tahun 1999, mengiklankan sebuah sepeda motor bebek 4 tak yang pada waktu itu harga pasarannya berkisar Rp 6.500.000,- hingga Rp 7.500.000,- (di show room besar hingga Rp 8.000.000,-). Penulis membelinya seharga Rp6.500.000,-

Ketika itu datang seorang calon pembeli dan menanyakan berapa harganya tanpa terlebih dulu permisi atau basa-basi. Penulis menjawab dengan sesopan mungkin, "Inginnya sih, saya jual Rp6.900.000,- tapi masih bisa kurang kok "

Orang itu dengan gagah sok jagoan dan sama sekali tidak menunjukkan sopan santun berkata, "Boleh nggak kurang dari enam ?" (maksudnya Rp 6.000.000).
Otomatis tingkah laku dan tawaran yang seolah ngeledek itu, membuat penulis sinis —karena penulis menilai orang itu tahu harga pasaran sepeda motor— dan sedikit "naik". Dengan tenang penulis berkata, "Begini sajalah Pak, kalau Bapak punya barang seperti ini harganya bisa kurang dari enam juta, Bapak bawa ke sini sekarang juga sepuluh biji pun saya beli".

Mendengar jawaban penulis seperti itu, bukannya dia menyadari kesalahannya, tetapi malah berkata dengan kasar, "Saya kan nawar! Lagian tawaran saya gak nyampe kurang dari dua juta !".

Mendengar perkataan seperti itu, dengan santai pula penulis berkata, "Maaf Pak, saya tidak mau berdebat. Kalau prinsip Bapak begitu, silakan Bapak tawar motor supercup saya yang di depan itu sepuluh ribu rupiah saja. Saya belinya cuma dua juta kurang, atau silakan Bapak pergi dari sini"

Memang apa yang dilakukan penulis tersebut kurang baik. Penulis juga tahu dan paham bahwa pembeli adalah raja. Tetapi, bukankah raja alim dimuliakan dan raja lalim disanggah ?

Apakah kita ingin menjadi pembeli model begini, seperti kedua ilustrasi di atas ? Semua orang pernah mengalami tawar-menawar harga barang, dan semua orang bisa melakukannya. Akan tetapi, apakah cara mereka sudah layak, dalam arti sesuai dengan etika, kemasyarakatan yang berlaku? Apakah mereka menyadari hak-hak orang yang diajak tawar-menawar tersebut, bahkan hak-haknya sendiri ? Apakah cara tawar-menawar sayuran di warung sama dan bisa diterapkan untuk menawar sebuah sepeda motor, apalagi sepeda motor bekas yang harganya tidak dibanderol atau dilabelisasi ?

Sudah selayaknya sebagai makhluk sosial, sebagai manusia yang beragama dan beradab, dalam hal menawar barang pun kita mengedepankan tingkah laku dan bahasa yang santun, sehingga membuat enak dan nyaman penjual yang barangnya kita tawar. Meskipun kita sebagai pembeli adalah raja yang punya hak tawar. Bukankah sopan santun dan bahasa yang baik itu gratis alias tidak perlu bayar ?

Berikut etika menawar harga yang lazim digunakan oleh para pedagang sepeda motor bekas, yang memiliki sopan santun dan sikap tenggang rasa.

  1. Dengan tingkah laku dan bahasa sopan kita tanyakan harga sepeda motor kepada pemilik atau penjualnya. Kita tanyakan pula apakah harga tersebut sudah merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi apa tidak.
  2. Jika penjual mengatakan harga sepeda motor tersebut merupakan harga mati atau harga pas, berarti harga sudah tidak mungkin ditawar lagi. Dalam keadaan seperti ini, jika kita sudah merasa cocok, tidak ada salahnya jika kita membayarnya. Namun, jika kita tidak cocok, apalagi uang kita kurang, dengan cara yang baik kita katakan kepada penjual bahwa kita akan memikirkan atau mengingamya lebih dulu.
  3. Jika pemilik atau penjual mengisyaratkan bahwa harga sepeda motornya masih bisa turun, bisa nego, dengan cara yang balk kita dahului dengan kata "maaf ", kita mulai menawarnya. Misalnya, "Maaf ya Pak, karena kondisi keuangan saya yang pas-pasan, bolebkah saya menawar sekian ?"
  4. Jika harga yang ditawarkan "tidak normal" atau terlalu jauh dari harga pasaran, lebih baik kita tidak perlu menawar, karena kemungkinan harga untuk turun terlalu drastis. Dengan sopan kita permisi saja dan meninggalkannya.
  5. Karena kita sudah mengetahui harga pasaran, sebaiknya kita tidak menawar dengan harga yang terlalu jauh dari yang ditawarkan penjual, apalagi jika kondisi sepeda motornya memang layak atau bagus. Jika kita menawar terlalu rendah, bisa menyinggung perasaan penjualnya. Kita harus ingat, secara psikologis, temperamen dan watak setiap orang berbeda-beda.
  6. Meskipun sebenarnya kita butuh dan senang sekali terhadap sepeda motor tersebut, sebaiknya kita tidak terlalu memperlihatkannya kepada penjual. Karena dengan terlalu vulgar memperlihatkan keinginan kita, sangat kecil kemungkinan penjual bersedia menurunkan harganya.
  7. Jika si penjual ngegos atau mempengaruhi kita, misalnya dengan kata-kata, "Wah Pak, tadi saja  sudah ditawar orang enam juta," —ketika kita menawarnya di bawah harga, tersebut— kita bisa menggunakan gos balasan dengan sedikit bercanda (tanpa menghilangkan sikap santun kita tentunya). Misalnya dengan berkata,"Bukannya harga segitu sudah tinggi Pak? Lagian orang tersebut kan baru sekadar menawar, belum tentu membawa uang tunai Pak. Oke, bagaimana Pak kalau harga segitu saya bayar kontan ?" "Gertaka atau gos semacam ini perlu kita lakukan agar sl penjual berpikir dan menimbang kembali keputusannya.
  8. Kita tidak perlu lagi banyak berdebat dengan penjual jika dia tidak mau memberikan sepeda motornya kepada kita. Dengan cara yang baik kita mohon permisi saja dan meninggalkannya dengan berkata, "Barangkali sepeda motor Bapak belum berjodoh dengan saya Pak, terima kasih dan mohon maaf telah mengganggu Bapak"
  9. Jika penjual memberikan sepeda motornya sesuai dengan harga yang kita tawar, kita tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Bisa pula kita dengan sedikit bercanda, 'Terima kasih Pak, itu yang saya tunggu. Mungkin sudah takdirnya motor ini menjadi milik saya".

Dengan menawar menggunakan bahasa yang baik dibarengi sikap sopan kita, penjual tentu akan senang dan tidak tersinggung. Bisa jadi, dia akan berpikir ulang dan mempertimbangkan keputusannya. Karena sikap sopan dan bahasa kita yang baik, tidak jarang penjual memanggil kita kembali ketika kita hendak meninggalkannya, dan memberikan barangnya sesuai dengan harga yang kita tawar.


Peringatan

  • Tunjukkan sikap sopan ketika, hendak menawar.
  • Gunakan kalimat/bahasa yang baik.
  • Jangan sok tahu dan'jangan terlalu memperlihatkan keinginan.
  • Jangan menawar terlalu rendah.
  • Gunakan gurauan atau canda yang bisa mencairkan kebekuan suasana.


Transaksi

Jika seluruh pemeriksaan telah kita lakukan dan telah terjadi kesepakatan harga, tibalah waktunya kita pada acara taransaksl jual beli. Di sini terjadi pertukaran hak dan kewajiban terakhir antara penjual dan kita sebagai pembeli. Si penjual berhak menerima uang dari kita dan wajib menyerahkan barangnya kepada kita. Kita berhak menerima barang (sepeda motor) dari penjual dan kita wajib menyerahkan uang (atau alat pembayaran lain yang disepakati) kepada penjual.
Dalam transaksi ini, jika kita membeli kendaraan kepada pemilik pertama (sesuai dengan yang tertulis di BPKB/STNK) yang perlu kita lakukan adalah meminta foto kopi atau salinan KTP penjual dan 2 lembar kuitansi pembayaran kosong, salah satunya bermeterai (di atas meterai dibubuhi tanda tangan penjual).
Salinan KTP dan kuitansi kosong bermeterai kegunaannya adalah mempermudah kita jika ingin memindah atau membalik namakan kendaraan menjadi atas nama kita, atau jika kita hendak memutasikannya ke wilayah hukum lain. Karena salinan KTP dan blangko kuitansi merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi jika terjadi proses mutasi dan balik nama. Di samping itu, akan mempermudah jika kita akan menjualnya kembali. Sejak tahun 2000, meterai yang sah untuk pembayaran seharga Rp 1.000.000,- ke atas adalah meterai Rp 6.000,-. Selain kuitansi kosong, kita juga berhak mendapatkan dua lembar kuitansi isi sesuai jumlah pembayaran harga yang telah disepakati.

Perlu kita ingat, sebelum membayar, hendaknya kita menghitung kembali jumlah uang yang akan kita bayarkan. Ini penting dilakukan, karena lebih banyak orang yang tidak jujur dibandingkan dengan yang jujur. Biasanya, penjual yang jujur akan mengembalikan uang kita jika kebetulan kelebihan, juga akan meminta kepada kita jika uang yang kita bayarkan kurang. Bagaimana yang tidak jujur ? Tentu ia akan meminta jika kurang, dan diam –kemudian menyimpannya—jika lebih. jika sampai terjadi, berarti kita yang menanggung kerugian.

Jika sepeda motor yang akan kita beli masih tergolong baru atau belum lama, kita tanyakan buku petunjuk pemakaian (panduan untuk pemilik), kartu garansi, dana asuransi jika sepeda motor diasuransikan. Dokumen ini kita perlukan agar kita bisa membaca dan menindaklajutinya. Kecuali itu, dengan adanya dokumen semacam ini akan mempermudah kita, seandainya kelak kita akan menjual kembali sepeda motor kita.

Juga kelengkapan lain yang sifatnya bawaan dari dealer, seperti seperangkat kunci busi, obeng, tang, kunci pas, dan sebagainya. Perkakas ini sangat penting untuk membuka komponen-komponen tertentu jika mengalami kerusakan secara darurat. Dengan adanya perkakas bawaan semacam ini, tentunya kita tidak harus mengeluarkan uang untuk membelinya.

Ada baiknya pula jika kita menegaskan jika terjadi sesuatu di kemudian hari yang menyangkut Surat-Surat kendaraan, mau tak mau kita akan menemui penjual. Jika perlu kita bisa minta Surat perjanjian di atas Segel. Penjual yang baik dan bertanggung jawab tentu tidak keberatan dengan penegasan kita. Apalagi jika ia merasa sepeda motor dan surat-suratnya memang sah dan tidak bermasalah.


Peringatan

  • Dalam transaksi harus meminta salinan KTP penjual dan kuitansi kosong bermeterai.
  • Sebagai bukti terjadinya transaksi, kuitansi pembayaran bermaterai mutlak perlu dan harus ada.
  • Hitung jumlah uang pembayarannya.
  • Teliti kembali surat-suratnya.

Semoga Bermanfaat.
Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda !

Rachmadi Triatmojo
Pengelola sepeda-motor.com

http://www.sepeda-motor.com
semua tentang sepeda motor masyarakat masa depan


Sumber : Kiat Membeli Sepeda Motor Bekas oleh Mas Bagong Mulyono , Penerbit PT kawan Pustaka, 2005


NB : Jika anda suka posting artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK Anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini ! Terimakasih.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...